A Chaotic World

A Chaotic World

Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Anambas

Saat sedang berbincang santai dengan seorang teman di perpustakaan sebuah universitas ternama di Jakarta, ia — sebut saja RD — menghela napas panjang seraya duduk dan berkata, "Negara ini benar-benar sedang kacau." Ia mempertanyakan mengapa arogansi kekuasaan tampaknya kian mengusik ketenangan publik. Kebetulan, saat itu saya sedang memegang buku yang baru saja saya membeli sebuah buku: Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau karya Haidar Bagir. Setelah membaca beberapa halaman, saya menanggapi ucapannya dengan berkata, "Pemikiranmu sejalan dengan penulis buku ini," sembari menunjukkannya kepadanya. Suasana pun hening sejenak, menghormati ketenangan perpustakaan.

Berdasarkan berbagai studi yang dibahas dalam buku ini, saya menyimpulkan bahwa kita perlu meninjau kembali filosofi bangsa ini. Kita harus mewujudkan Indonesia yang baru—dengan mentransformasi ranah sosial-politik, budaya, dan ekonomi, serta cara pandang kita terhadap agama, melalui model tata kelola yang baru—demi melampaui masa kekacauan saat ini. Pemahaman inilah yang melahirkan konsep yang tercermin dalam judul artikel tersebut.

Judul diatas, adalah sebuah refleksi korektif dalam membaca kondisi zaman yang menghadirkan phenomena spiritualitas keagamaan yang terkikis dari tatanan kehidupan global dan pengalaman ini merupakan sebuah konsekuensi era pos-modernistik sa’at ini. Hidup di era posmodern memang terasa agak rumit bila dibandingkan dengan hidup tempo doeloe yang kita namakan era tradisional. Di era tradisional kita belum mengenal handphone apalagi smartphone.

Ketika itu kehidupan manusia sangat sederhana sekali, umpama saja jika ingin berkomunikasi membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyepakati suatu urusan. Perubahan drastis terjadi ketika dunia global memperkenalkan tehnologi maju dengan berbagai peradaban baru yang mendukungnya.

Perubahan itu terjadi ketika dunia industri internet menyulap dunia menjadi bola kecil yang saling terhubung. Manusia hidup dalam kampung global yang saling membutuhkan dan saling ketergantungan. Hidup di zaman ini banyak orang yang melihat betapa di Masyarakat di negeri ini sekarang dipenuhi dengan ketegangan antar kelompok yang luar biasa. Antar kelompok politik, kelompok etnik, kelompok keagamaan, antar dan intra agama dan sebagainya. Terasa luar biasa besar semangat sentiment satu kelompok dengan kelompok lain, dan bahkan antar rakyat dan pemimpin selalu saja perang-serangan, satu sama lain saling melakukan perang argumentasi, perang opini untuk melakukan perlawanan ketidak adilan.

Zaman kita saat ini adalah zaman berkelimpahan. Tetapi pada saat yang sama kita merasakan kegalauan dan serba keterbatasan hidup dalam ketidak cukupan. Barang-barang kebutuhan hidup terasa mahal biaya Pendidikan terasa semakin berat dan ditambah lagi oleh himpitan sempitnya lapangan pekerjaan yang tidak tersedia. Kondisi ini jika pemerintah tidak menemukan kebijakan yang tepat maka dikhawatirkan dapat menumbuhkan benih-benih ideologis radikalisme dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Inilah zaman yang dicirikan oleh posmodernistik, dalam bentuk arus dekonstruksi atas narasi-narasi besar (grand naratives) yang di dalamnya selalu melibatkan nilai-nilai agama. Tokoh yang terkenal yang menyerukan narasi ini adalah Nietzsche dengan sebutan “Agama sudah mati.” Jika narasi ini dibangun factor-faktor yang mencirikannya maka zaman ini betul-betul menjadi Jahiliyah Modern, modern-day Jahiliyyah, suatu zaman yang tidak lain mengindahkan kejujuran dan kebenaran, zaman yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Nilai-nilai kejujuran mengalami kehilangan elanpitalnya sehingga untuk menegakan keadilan harus dengan ketidak adilan.

Pada awalnya, terdapat anggapan umum bahwa masa Jahiliyyah dicirikan oleh ketidaktahuan—sebuah gagasan yang sering diulang-ulang dalam berbagai pidato yang menggambarkan misi Nabi (SAW) sebagai upaya membimbing umat manusia dari keadaan ketidaktahuan menuju zaman pencerahan. Namun, pandangan ini keliru. Istilah Jahiliyyah—sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an—tidaklah merujuk pada kurangnya kemampuan intelektual ataupun pemahaman. Faktanya, masyarakat Arab pada masa itu memiliki kecakapan yang luar biasa dalam berbagai bidang. Mereka memiliki keahlian di bidang astronomi; sebagai kaum nomaden yang terlibat dalam perdagangan melintasi padang pasir yang luas, keahlian semacam itu sangatlah penting untuk navigasi. Mereka juga mahir dalam matematika dan sastra, serta mampu menghasilkan karya-karya sastra yang indah.

Dengan demikian, orang-orang yang disebut 'jahil' (tidak mengerti) itu bukanlah orang bodoh dalam hal pengetahuan atau pemahaman budaya; bahkan terkait filsafat dan pemahaman akan makna di balik penciptaan alam semesta, mereka tetap meyakini keberadaan Allah. Namun, mereka tampak bodoh akibat kelalaian mereka sendiri dan tidak lagi mampu menjaga martabat kemanusiaannya sebagai pribadi yang muliya.

Masyarakat pada masa Jahiliyyah memiliki kecerdasan—bahkan mungkin kecerdasan setingkat jenius—namun sungguh disayangkan bahwa kedalaman iman, batin, dan etika mereka tertutup oleh tirai tebal hasrat materialistis, sehingga menghalangi pemahaman akan kebenaran. Demikian pula hakikat zaman kita saat ini. Alangkah banyaknya mereka yang cerdas, janius dan bahkan sudah menamatkan seluruh jenjang Pendidikan. Tetapi sayang disayang jiwanya telah tertutup untuk menuju ke langit mendengarkan petunjuk Tuhan Yang Maha memberi petunjuk. Segala yang bersifat abstrak (gaib) dianggapnya sebagai nonsense. Segala sesuatu yang tidak empiric dianggap tidak ilmiyah.

Mirip dengan kaum para nabi di masa lampau—yang senantiasa menuntut bukti fisik sehingga Allah (SWT) menurunkan mukjizat untuk melenyapkan keraguan masyarakat yang belum tercerahkan itu—pola pikir yang sepenuhnya rasional dan materialistis serta menuntut bukti konkret ini menumbuhkan kesombongan pada diri individu. Agama dipandang sebagai penghambat kemajuan; Karl Marx bahkan melabelinya secara sinis sebagai "racun"—sebuah bisa yang menghambat pertumbuhan intelektual.

Bagi mereka, Washington D.C., New York, Paris, dan Los Angeles menjadi titik acuan; kota-kota ini melambangkan kedigdayaan dan kemajuan. Mereka memandang aturan agama sebagai hambatan—belenggu yang bertentangan dengan etos pragmatisme dan efektivitas masa kini. Kondisi inilah yang penulis sebut sebagai a chatic world (dunia yang kacau).

Untuk menyikapi kondisi demikian beberapa langkah yang dapat penulis tawarkan adalah:

Pertama, Meneguhkan kembali Kejujuran Rasional

Meneguhkan kejujuran rasional adalah upaya kembali kepada kejujuran bertindak dalam kehidupan sosial. Dalam perkembangan pemikiran modern, Habermas (1989) mencatat bahwa masyarakat kontemporer sedang menghadapi krisis nilai sekaligus krisis legitimasi. Rasionalitas instrumental—yang berpusat pada efisiensi, keuntungan, dan kendali—telah mendominasi ranah sosial, sehingga mengesampingkan rasionalitas komunikatif yang didasarkan pada dialog dan pemahaman bersama. Kritik sosial ini adalah kritik modernitas yang melibatkan kekuatan kejujuran yang sangat menentukan keharmonisan masyarakat.

Kritik atas modernitas tidak cukup hanya dengan menunjukkan kerusakannya sendi-sendi moralitas, harus disertai dengan rekonstruksi: bagaimana membangun kembali ruang publik, bagaimana menciptakan prosedur dialog yang adil, dan bagaimana mengembalikan manusia ke dalam proses komunikasi yang lebih manusiawi. Dengan demikian, teori tindakan komunikatif bukan sekadar analisis terhadap pemimpin dan masyarakat, melainkan tawaran normatif mengenai bagaimana pemimpin dan masyarakat seharusnya berfungsi.

Signifikansinya sangat nyata di dunia saat ini—terutama di era digital yang memunculkan berbagai tantangan baru seperti polarisasi informasi, dinamika post-truth (pasca-kebenaran), merosotnya ruang publik, serta pergeseran tren spiritualitas dalam masyarakat modern. Media sosial, yang tampak sebagai wadah baru untuk berinteraksi, kerap berubah menjadi sumber data yang belum terverifikasi, memicu konflik terkait identitas, dan menjadi sarana pengaruh algoritma yang memperuncing perpecahan sosial.

Teori ruang publik dari Habermas diatas memberikan wawasan mengenai bagaimana kerangka komunikasi digital gagal menjaga idealisme rasionalitas komunikatif, serta bagaimana masyarakat dapat membangun kembali lingkungan dialog yang lebih jujur dan konstruktif. Selain itu, spiritualitas kontemporer—yang bercirikan sifat individual dan introspektif serta tidak terikat pada organisasi formal—dapat dipahami melalui konsep "dunia-kehidupan" (lifeworld) dan hasrat mendasar manusia untuk mencari makna melalui dialog yang autentik, sebab mereka telah kehilangan keteladanan (uswahhasanah). Disilah urgensinya meneguhkan kembali kejujuran rasional dalam sikap hidup berbangsa dan beragama.

Kedua, Memperteguh Keteladanan Profetik

Model keteladanan profetik berlandaskan pada tujuan para nabi dan rasul sebagai pemimpin di muka bumi. Model ini mencakup pola pikir, tindakan, dan pendekatan kepemimpinan yang mencerminkan sifat-sifat mulia para nabi—khususnya Nabi Muhammad (SAW)—dalam memimpin umat manusia dan mengangkat harkat serta martabatnya. Kepemimpinan semacam ini menjadi teladan perilaku dan pola pikir yang didasarkan pada cara para nabi membimbing kaum mereka.

Para nabi menunjukkan sifat-sifat yang sungguh patut dikagumi; di antara kualitas profetik yang kini semakin jarang ditemukan pada para pemimpin masa kini maupun masyarakat umum adalah amanah (dapat dipercaya), istiqomah (konsisten), dan mahabbah (kasih sayang) kepada rakyatnya.

Pemimpin yang mencerminkan sifat dapat dipercaya adalah mereka yang—dengan tekad yang teguh—menunjukkan sikap dapat diandalkan serta menjaga kepercayaan yang diberikan kepada mereka; mereka adalah sosok yang kompeten dan bertanggung jawab, serta mampu membedakan antara kepentingan pribadi dan keluarga dengan kepentingan masyarakat dan negara. Sosok yang dapat diandalkan ini senantiasa mengedepankan kejujuran dan kerendahan hati dalam sikap maupun perilaku, sembari memastikan bahwa jabatan yang diembannya tidak pernah disalahgunakan demi keuntungan pribadi atau keluarga. Mereka rendah hati, tawaddhu’ dan sederhana dalam kehidupannya. Pemimpin seperti itu ada di Indonesia walaupun tidak banyak. Umpamanya saja Muhammad Natsir (Menteri Penerangan RI tahun (1946-1949).

Saat pertama kali bertemu dengannya, George McTurnan Kahin (1948)—seorang profesor dari Universitas Cornell—terkejut mendapati sang menteri mengenakan setelan jas yang penuh tambalan. Pakaiannya jelas tidak pantas bagi seorang menteri pemerintah. Kahin kemudian mengetahui bahwa Natsir hanya memiliki dua pasang kemeja kerja yang sudah agak usang; pada akhirnya, para pegawai di Kementerian Penerangan—instansi yang dipimpinnya—mengumpulkan dana untuk membelikannya pakaian yang layak agar ia bisa tampil layaknya seorang menteri yang sesungguhnya. Ketika Natsir mendirikan dan memimpin organisasi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), banyak yang mengamati beliau mengenakan baju yang “itu-itu saja”, bahkan ada baju yang tetap dikenakannya walau ada bekas noda tinta yang tidak bisa hilang di saku baju tersebut.

Kejujurannya tampak jelas saat ia melepaskan jabatan Perdana Menteri. Kala itu, timnya menginformasikan bahwa masih terdapat dana yang cukup besar dalam dana diskresioner Perdana Menteri. Staf tersebut menyebutkan bahwa dana itu adalah milik Perdana Menteri. Namun, Natsir menolaknya dengan menegaskan bahwa uang tersebut bukan haknya secara sah, dan ia menginstruksikan agar dana itu diserahkan kepada koperasi karyawan.

Bagaimana dengan para menteri dan pejabat tinggi kita saat ini? Tentu tidak semuanya yang tidak berintegritas; banyak yang masih memiliki kejujuran dan integritas yang kuat. Namun, ketika negara menghadapi krisis kepemimpinan yang luar biasa, segala hal yang sebelumnya bernilai positif seolah dihantam oleh kekuatan pemusnah, yang mengakibatkan kepercayaan publik hangus dan dilalap oleh kobaran api kebohongan. Rakyat kita tentu bertanya dimanakah kejujuran yang selama ini telah tertanam dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa. Kita membutuhkan keteladanan yang tidak hanya dalam kehidupan keluarga tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Terdapat satu nasehat yang sangat indah dari sosok Natsir yang selalu diingat oleh para pengikutnya tentang istiqomah yaitu diibaratkan seperti kehidupan ikan di laut, walaupun sepanjang hidup dikelilingi air laut yang rasanya asin, namun sampai akhir hayatnya rasa daging ikan tersebut tetap tawar. Natsir menjalani kehidupan politik dan bermasyarakatnya dengan istiqomah baik di zaman orde lama maupun orde baru, walaupun harus menerima resiko diasingkan, dipenjara dan dikebiri hak-hak sipilnya. Begitulah sosok teladan yang pernah kita miliki, dan kita rindu dengan sosok yang demikian.

Sebab itu, masyarakat Indonesia khususnya dan dunia umumnya sangat mendambakan pemimpin pengabdi yang bekerja tanpa pamrih. Pemimpin yang berani memilih untuk memberi apa yang dimiliki kepada negeri daripada menuntut apa yang bisa diberikan negara kepadanya. Pemimpin yang senantiasa bersikap hanya memberi dan tak harap kembali. Pemimpin yang memilih hidup jujur dan sederhana walaupun memiliki peluang besar untuk hidup mewah bergelimang harta.

Ketiga, Menyatukan Hati dengan Fikiran

Akar dari segala perbuatan keliru bermula dari dua kesalahpahaman mendasar: pemisahan antara hati dan akal budi. Oleh karena itu, kita perlu menyatukan keduanya dalam menjalani kehidupan. Jika tidak diatasi, pemisahan ini akan menjadi racun bagi jiwa manusia, memicu kekacauan sosial, ketidakpercayaan dan prasangka, cara pandang yang hitam-putih, serta hasrat kekuasaan yang tak pernah terpuaskan (keserakahan).

Diantara tantangan global dan kekacauan dunia (seperti krisis lingkungan, perang, ketidakadilan sosial, dan korupsi) dengan berfokus pada akar masalahnya yang terletak pada pikiran, delusi, dan pola hidup manusia modern. Kekacauan dunia ditandai dengan ancaman lingkungan, konflik bersenjata, korupsi, dan ketidakadilan sosial, yang semuanya berakar pada kegagalan manusia menata dirinya sendiri, pikirannya, dan kehidupan bersama yang adil dan makmur.

Fenomena sosial global telah menyoroti berbagai kesulitan dalam kehidupan sehari-hari manusia serta beragam persoalan sosial-politik dunia—seperti ekstremisme, korupsi di Indonesia, konflik antarnegara, dan kekerasan akibat pergolakan sosial. Gejolak global ini berakar pada aspek pribadi dan psikologis—khususnya racun mental dan kurangnya pengendalian diri—alih-alih pada kajian mendalam mengenai kerangka politik, ekonomi, atau militer yang memicu perpecahan.

Kita perlu kembali pada ajaran Al-Qur'an dan keteladanan Nabi Muhammad (SAW). Dunia sedang menghadapi kekacauan akibat kurangnya kepemimpinan yang efektif (Jujur dan berintegritas); oleh karena itu, kita membutuhkan pemimpin visioner yang memiliki sifat-sifat mulia tersebut. Ketiadaan pemimpin yang visioner, cakap, dan berintegritas tinggi hanya akan memperburuk keadaan—yang berujung pada semakin parahnya kekacauan serta memudarnya nilai-nilai luhur yang berlandaskan kepedulian tulus terhadap rakyat.

Kita harus membuka babak baru dalam kehidupan global—yang berlandaskan pada integritas dan perilaku yang patut diteladani—sebelum dunia sepenuhnya dilanda gelombang tipu daya, kehilangan martabat kemanusiaan, dan tercerabut dari cahaya kebenaran (iman), serta sebelum masyarakat jatuh ke dalam kondisi yang sangat rapuh dan penuh gejolak di berbagai ranah—sosial, politik, ekonomi, budaya, maupun keagamaan—terutama di Indonesia. Semoga Indonesia mampu bangkit dari kekacauan yang melanda bangsa dan negara ini, serta meraih suasana yang tenang, harmonis, adil, dan sejahtera.

 

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT