Tirai Pesona Ketenangan Batin

Tirai Pesona Ketenangan Batin

Oleh: Dr. H. Muhammad Nasir, S.Ag. M.H., Kakan Kemenag Anambas

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al- Fajr. 27-30).

Keterikatan kita dengan materi telah menyebabkan kita terlepas dari pengalaman gaib. Lingkungan kita terbatas pada apa yang dapat kita amati, yang dapat kita ukur, yang dekat secara fisik dengan kita. Sebab itu dalam Islam terdapat suatu sikap yang sangat efektif untuk membuka kegaiban yaitu dengan zuhud. Zuhud membawa kita melintasi alam syahadah dan memasuki alam gaib. Dengan menggunakan istilah kaum sufi zuhud mengantarkan kita pada alam mukasyafah, yaitu terbukanya tirai kegaiban sehingga seorang hamba dapat melihat esensi sesuatu dengan jelas dari pandangan kasat mata.

Tetapi zuhud juga menghasilkan buah yang lain. Imam Ali bin Abithalib berkata kepada Abu Dzar, “Barang siapa yang zuhud dalam dunia, tidak sedih karena kehinannya, dan tidak anbisius untuk memperoleh kemuliyaanya, Allah akan memberikannya petunjuk tanpa melewati petunjuk makhluk-Nya. Dia akan mengajarinya ilmu tanpa mempelajarinya. Allah swt mengokohkan hikmah dalam hatinya dan mengeluarkan hikmah itu melalui lidahnya.”(Al-Bihar.78:63).

Imam Ali ra, dalam Riwayat ini menyebutkan ilmu yang diberikan Allah langsung tanpa perantara makhluknya. Para sufi menyebutnya Ilmu laduni. Sebab itu kata Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Ghurrar Al-Hikam, “kalian akan dibebaskan dari penderitaan dunia dan memperoleh kebahagiaan di kampung yang kekal akhirat.” Apa yang dikatakan Imam Ali diatas terjadi dalam rasa pada hati seseorang. Ketika hal itu terjadi, maka disitulah ketenangan batin manusia terwujud. Menurut ahli ma’rifat seandainya kita melihat suasana ketika itu maka keindahannya tak dapat digambarkan dengan kata-kata tetapi jika diperlihatkan kepada mansuia di bumi akan terpesona betapa indahnya wujud tersebut.

Jika kita mengibaratkan batin manusia dengan sesuatu yang gaib, tentu mustahil untuk melihat wujud fisiknya dengan mata telanjang; namun, batin itu jelas memiliki esensi yang sangat indah dan mempesona. Secara filosofis, batin ini dipandang indah—layaknya sosok menawan di dunia fisik—dan ketika kita menyebut hati sebagai sesuatu yang luar biasa, kita mengakui adanya keindahan yang melampaui ranah fisik, yang berakar pada makna filosofis.

Hati senantiasa dikaitkan dengan istilah-istilah seperti penuh sukacita, ceria, tenteram, gundah, dan ungkapan serupa. Hal ini berkaitan dengan sifat hati, di mana manusia dapat senantiasa menjaga hati mereka dari rasa bersalah dan perbuatan dosa.

Keindahan batin senantiasa menjadi misteri hingga umat manusia menyingkap hakikat sejatinya. Secara simbolis, keindahan kerap digambarkan melalui gagasan tentang ketenangan—sebuah istilah yang sering muncul dalam diskusi filosofis dan dimaknai secara beragam bergantung pada persepsi masing-masing individu. Sesuatu yang dianggap indah karena selera pribadi belum tentu indah jika ditinjau dari segi fungsinya. Kita terus-menerus terjebak dalam pandangan yang keliru mengenai keindahan, tanpa menyadari bahwa keindahan bukan sekadar hal yang bersifat subjektif, melainkan sebuah ideal yang patut diperjuangkan.

Seringkali hidup ini mudah dipengaruhi oleh hal-hal sepele yang tidak produktif. Kita terpesona pada hal-hal yang patamorgana. Lihatlah di sekeliling diri kita, betapa kita terpesona akan kedudukan tinggi, gelar akademik, kekayaan, kemewahan, dan populeritas. Padahal kedudukan tinggi akan berakhir, gelar akademik tidak kekal, kekayaan akan berkurang, kemewahan akan menghilang dan kepopuleran akan memudar. Karena itu mengapa sisa hidup ini kita sia-siakan hanya untuk mengagumi sesuatu yang akan lenyap dan pudar, menyusahkan bukan?. Sebab itu singkirkanlah rasa ta’ajub kita terhadap hal-hal yang akan layu dan mati serta berjalanlah menuju-Nya yang Maha kekal dan abadi.

Mark L. Rosen, penulis buku Thank You for Being Such a Pain, menguraikan berbagai teknik untuk menghadapi orang-orang yang menyusahkan. Ia menekankan agar kita tidak mudah terpancing oleh tindakan mereka, melainkan berfokus pada sisi positifnya, karena kehadiran mereka sangat penting bagi pengembangan diri kita. Patamorgana yang menggoda hanyalah ujian iman dan keyakinan yang bisa menyesatkan.

Di zaman modern ini, kita kerap menghadapi berbagai tantangan dan ujian iman yang berat. Kita terus-menerus dihadapkan pada godaan yang menguji keyakinan serta memupuk rasa mementingkan diri sendiri. Namun, jika kita merenungkan sejarah para nabi dan rasul terdahulu, tantangan yang mereka hadapi jauh lebih berat dengan kesulitan yang kita alami saat ini—perhatikanlah, misalnya, pergulatan hidup Nabi Yusuf (as); sungguh mustahil untuk menggambarkan besarnya penderitaan yang beliau alami hanya dengan kata-kata. Sejak usia sangat belia beliau harus berpisah dengan orang tuanya, dibuang ke dalam sumur, sampai diperdagangkan sebagai budak. Tidak hanya sampai disitu dia juga harus mengendalikan gejolak hawa nafsunya dari godaan rayuan Wanita cantik bangsawan Kerajaan. Diapun terpaksa mendekam masuk penjara karena difitnah.

Melalui pergulatan hidup Nabi Yusuf AS, Allah hendak menunjukkan kepada kita bahwa mereka yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Nya mampu memaafkan kesalahan orang lain, menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, serta dengan tulus membantu orang-orang yang pernah berbuat zalim kepadanya. Sifat pema’af Nabi Yusuf (a.s.) memungkinkannya mencapai keseimbangan spiritual antara tubuh, jiwa, dan pikiran, sehingga ia dapat meraih puncak kedamaian batin. Keseimbangan ini merupakan keselarasan utuh yang akan membangkitkan daya hidup (energi vital). Disisi lain daya hidup merupakan energi alami yang kuat yang dapat memberikan perlindungan terhadap berbagai kesehatan. Hal ini menggambarkan hubungan antara ketahanan sistem kekebalan tubuh, gaya hidup seimbang, dan sikap memaafkan.

Gorald G. Jampolsky dalam bukunya, love is Letting Go of fear menyebutkan bahwa memberi ma’af, baik sangka, dan ketulusan menolong sesama adalah sarana untuk mengubah persepsi kita dan mengusir kekhawatiran, penilaian buruk, dan kesedihan hati. Persepsi manusia selalu mendatangkan prasangka terhadap ketentuan Allah swt. Kita tidak setuju dengan ketentuan yang menurut kita tidak baik, padahal dibalik itu ada tersimpan kasih sayang Allah kepada kita. Sebab itulah Agama selalu mengajarkan hindarilah sesuatu yang menyebabkan jarak antara kita dengan Allah menjauh. Seseorang yang selalu mendekat dengan Allah swt, akan memiliki batin yang tenang sehingga Allah memanggilnya untuk kembali dengan ridha-Nya, masuk ke dalam golongan hamba-Nya dan masuk ke dalam surga-Nya.

Perasaan batin dari jiwa manusia yang damai menyerupai pancaran cahaya yang indah, jernih, dan lembut. Dari sumber inilah muncul karakter dan kepribadian muliya yang bermartabat serta berwawasan luas. Ungkapan-ungkapan batin ini mencerminkan ketulusan dan kenyataan; oleh karena itu, seseorang tidak boleh membohongi suara hatinya saat ia berbicara. Untuk membuka pesona ketenangan batin dan tetap peka dalam mengikuti isyarat-isyarat batin tersebut, diperlukan keyakinan akan kehendak Allah SWT.

Berbagai pendekatan (strategi) untuk membuka tirai pesona ketenanga batin tersebut antara lain sebagai berikut:

Pertama: Temukan Ketenangan (find tranquility) dalam sujud dan ruku’

Pesona keindahan (ketenangan) batin ada dalam ruku’ dan sujud. Ia tersembunyi bagaikan karang di dasar lautan. Kedalaman sujut dan ruku’ kita sangat menentukan terbukanya tirai tersebut. Kita wajib menyelaminya sampai kita menemukan dan merasakan ketenangan tersebut. Banyak orang yang belum menemukan pesona indah itu, sehingga sujud dan ruku’nya belum berkesan dalam hidupnya.

Ketika turun surat A-Waqi’ah ayat 74,”Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha besar,” Rasulullah saw, bersabda;”Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku’ kamu.” Maka ulama fiqih sepakat menjadikan kalimat tasbih ini sebagai bacaan dalam ruku’. Bertasbih dalam ruku’ tidak sekedar mengucapkan dan menghayati maknanya. Kita dituntut mendalami dengan menempatkan hati, jwa dan segala rasa di dalam kebesaran nama Tuhan yang kita sebut. فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِࣖ, “Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Agung”.

Ketika turun surat Al-A’la ayat pertama, Rasulullah saw, bersabda,”Jadikanlah pensucian itu di dalam sujudmu.”. سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَى “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” Maka ulama fiqih sepakat menjadikan kalimat tasbih ini sebagai bacaan dalam sujud.

Kedalaman ruku’ dan sujud sangat menentuakan khusu’ dalam shalat. Karena dalam ruku’ dan sujud terdapat pesona indah kebahagiaan bersama Allah.swt. Dalam sujud itulah seorang hamba paling dekat dengan Tuannya. Nabi mengatakan dalam sabdanya; "Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu." (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Inilah puncak perjalanan spiritual hamba dalam shalat, ketika dia telah menemukannya dalam kondisi paling dekat dengan Tuhanya. Dalam kondisi ini seorang hamba merasa dirinya berada disisi-Nya sehingga kehendak Allah telah menyatu dengan kehendaknya. Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seseorang hamba sudah Bersatu dengan kehendak Allah swt.

Dalam persfektif ini terdapat dua tahap perjalanan menuju Allah swt, Pertama; ketika seseorang mendahulukan kehendaknya dari pada kehendak Allah. Kondisi ini adalah awal perjalanan. Kedua; ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah swt, dari pada kehendaknya. Kondisi ini adalah akhir perjalanan.

Jika seseorang telah mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Alah dan mana kehendak dirinya. Kaki yang dipakai berjalan adalah kaki Allah, mata yang digunakannya melihat adalah mata Allah , dan tangan yang digunakannya memegang adalah tangan Allah. Dalam hadits Qudsi dijelaskan; “Jika seseorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku, dengan melakuka amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdo’a Aku akan menjawab doa’anya.” Jadi hamba yang sudah dekat dengan Allah swt, kehendaknya sudah menjadi “kun”.

Dalam sebuah riwayat di kalangan sufi yang menyebutkan bahwa kata basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lapadz “kun” yang diucapkan Allah. Maksudnya ketika Allah swt, berkehendak dengan sesuatu, Dia hanya berkata “kun” maka jadilah sesuatu itu (QS. Yasin: 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya.

Basmalah mengandung nama-nama Allah yang merepresentasikan sifat-sifat keagungan (jalaliyah) dan keindahan (jamaliyah) milik-Nya. Nama-nama yang termuat dalam basmalah adalah Allah, Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang). Ar-Razi menyatakan bahwa nama "Allah" merupakan Lafz al-Jalalah (Nama yang Agung); nama ini merujuk pada Zat yang menunjukkan kebesaran-Nya. Nama "Allah" menyingkapkan kekuasaan, keagungan mutlak, dan keluhuran transenden Allah—Maha Suci dan Maha Tinggi Dia. Demikianlah penjelasan yang diberikan oleh para ulama tasawuf (Sufisme).

Kedua: Menemukan kunci surga (key to heaven) di hati

Salah satu istilah yang lazim dijumpai dalam Al-Qur'an adalah al-jannah—yang biasanya diterjemahkan sebagai "surga". Gagasan mengenai suatu ranah atau tempat khusus yang ada setelah kematian, yang berfungsi sebagai imbalan bagi mereka yang telah berperilaku baik (beramal saleh), tampaknya merupakan bagian inheren dalam hampir semua kebudayaan manusia, mulai dari masyarakat primitif hingga zaman modern.

Setelah menelaah berbagai sumber mengenai konsep surga ("Jannah"), penulis mendapati bahwa surga merupakan suatu ranah tertutup—sebuah tempat yang keberadaannya tidak dapat ditangkap oleh kelima indra manusia; ia tetap tersembunyi dan belum pernah terlihat oleh manusia. Dalam Hadist Qudsi Allah berfirman; 'Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik (terlintas) dalam hati seorang manusia.' (HQR; Abu Hurairah), Kemudian bacalah jika kalian suka: 'Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan pandangan mata.' (QS. As-Sajdah: 17).

Dalam perspektif Aqliyah-Ilmiyah, surga digambarkan menyerupai taman yang luas, indah, terbuka, dan menyegarkan, yang dipenuhi dengan pepohonan rimbun yang tumbuh subur. Sebagai ilustrasi, dalam ayat berikutnya disebutkan: "Sesungguhnya bagi kaum Saba' terdapat tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sisi kanan dan kiri." "Kami berfirman kepada mereka, 'Makanlah dari rezeki yang dianugerahkan oleh Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya.' (Negeri kalian) adalah tempat yang nyaman (menyenangkan), sedangkan (Tuhan kalian) adalah Tuhan Yang Maha Pengasih."(QS. Saba’;15).

Menurut mereka yang memiliki ma’rifat (wawasan spiritual), surga memiliki dua penafsiran: surga hakikiyah (surga dalam esensi yang sesungguhnya) dan surga maknawiyah (surga dalam pengertian spiritual atau metaforis). Kedua jenis surga ini memiliki sifat dasar yang sama, yaitu kedamaian dan kenikmatan. Dalam pengertian harfiah—yang dalam bahasa Arab disebut Jannah—surga adalah tempat yang diciptakan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang bertakwa (muttaqin) di akhirat kelak, sebagai balasan atas amal kebajikan yang mereka lakukan selama hidup di dunia ini.

Secara prinsip, mengenali dan memahami hakikat Surga—yang diperuntukkan bagi mereka yang selalu ta’at kepada Allah SWT—akan memenuhi diri seseorang dengan rasa syukur yang tak terhingga. Mereka merasa bersyukur karena telah terlahir dalam keyakinan Islam, atas waktu yang diberikan untuk bertobat dan memperbaiki diri, serta atas agungnya rahmat Allah SWT yang senantiasa membuka lebar jalan menuju Surga. Rasa syukur ini dapat memotivasi seseorang untuk mengemban peran sebagai khalifah (pengemban amanah) di muka bumi dengan semangat yang lebih besar, bahkan saat menghadapi berbagai tantangan—baik yang bersifat materi maupun non-materi—di sepanjang perjalanan hidupnya.

Ganjaran berupa surga (jannat) dari Allah SWT akan terus berkembang; kualitas dan kuantitas kenikmatan di dalamnya akan senantiasa bertambah seiring dengan terpancarnya rasa syukur yang tertuju kepada Allah SWT, Yang Maha Agung. Anugerah tertinggi dari Allah SWT adalah ketika seseorang diperkenankan untuk memandang-Nya—sebuah tatapan yang penuh kasih sayang. Di surga, selain senantiasa mengingat Allah SWT, para penghuninya juga dapat memandang Allah SWT. Hal ini merupakan jaminan keabadian, sebagaimana tertuang dalam janji Allah SWT di dalam kitab suci-Nya. “Mereka yang beriman dan beramal saleh akan ditempatkan oleh Allah SWT di Jannat 'Adn (surga 'Adn) yang kekal abadi, dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. (QS. Al-Baqarah;25).

Oleh karena itu, bergegaslah menuju kepada-Nya agar, pada saatnya nanti, kita dapat benar-benar menjumpai kebahagiaan tertinggi tersebut. Bergegas menuju Allah seharusnya tidak semata didasari oleh rasa takut akan neraka-Nya, melainkan oleh kekhawatiran akan ditinggalkan oleh-Nya. Hal ini berbeda dengan ketakutan yang kita hadapi di dunia ini; dalam kehidupan ini, seseorang secara alami akan menjauh dari apa pun yang dianggapnya menakutkan. Pandangan kita terhadap Allah (SWT) semestinya mencerminkan hal ini—sebab rasa takut yang mendorong kita untuk segera berpaling kepada-Nya pada akhirnya akan menuntun kita pada pengakuan akan keagungan karunia-karunia-Nya.

Memang, rasa takut pada dasarnya merupakan sifat universal manusia—takut akan penyakit, kemiskinan, bencana, dan sebagainya. Kekhawatiran akan kemiskinan, misalnya, mendorong kita untuk berupaya meraih kekayaan—atau setidaknya memastikan kecukupan—sementara rasa takut akan penyakit mendorong kita untuk menjaga kesehatan dengan saksama. Ketakutan-ketakutan semacam ini adalah bagian dari fitrah manusia, begitu pula dengan berbagai upaya yang kita lakukan untuk menghadapinya.

Dengan demikian, janganlah suka meremehkan amal-amal sederhana, karena justru amalan-amalan inilah yang dapat mendatangkan kecintaan Allah. Contohnya seperti berzikir, bersedekah, dan amalan sunnah lainnya atau membantu mereka yang membutuhkan. Amalan-amalan ini mungkin tampak sepele, namun di sisi Allah, tidak ada satu pun yang sia-sia. Jika seorang hamba bersikap acuh tak acuh terhadap amal ketaatan dan tidak bersegera untuk melaksanakannya, itu merupakan pertanda bahwa hatinya telah mati (mautul qalbi). Sungguh menyedihkan ketika seorang hamba menyadari bahwa Allah SWT sebenarnya sedang mengulurkan tangan—mengundangnya untuk meraih keberkahan melalui sedekah, membukakan pintu-pintu kebaikan, serta menghadirkan kesempatan emas untuk berzikir (dzikrullah) dan mengenal-Nya (ma'rifatullah)—namun sayangnya, kesempatan berharga tersebut justru disia-siakan dan tidak dimanfaatkan untuk melangkah memasuki pintu-pintu rahmat Allah melalui berbagai amal saleh.

Sungguh sangat disayangkan jika seseorang melewatkan kesempatan untuk meraih rida-Nya dengan bersegera melakukan amal kebajikan. Mengabaikan peluang berharga ini—selagi kita masih memiliki usia, tenaga, dan akal—berarti kehilangan berbagai anugerah, keutamaan, serta rahmat dari Allah SWT. Pada hakikatnya, setiap siang dan malam, Allah Yang Maha Agung telah menjadikan seluruh kehidupan ini sebagai wadah untuk beramal saleh. Namun, sering kali kita justru enggan menempuh jalan amal saleh tersebut; keengganan ini merupakan pertanda adanya penyakit dalam hati (qalbun saqim), yang pada akhirnya dapat menyebabkan hati itu mati (qalbun mayyit). Hati yang mati adalah hati yang terkunci, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah: "Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?"(QS.Muhammad;24).

Di sisi lain, seseorang akan merasakan kebahagiaan ketika Allah SWT menanamkan ke dalam hatinya rasa kenikmatan yang bersumber dari pelaksanaan amal ketaatan kepada-Nya (amallillah); hal ini menandai permulaan yang sungguh terpuji bagi lahirnya amal-amal yang bercahaya (nurul bidayah). Allah SWT memuji orang-orang yang menunjukkan kesabaran dalam melakukan berbagai amal kebajikan serta melaksanakannya dengan tulus, seraya merasakan kesedihan dan kepedihan hati apabila melewatkan kesempatan-kesempatan berharga.

Allah SWT memberikan kabar gembira (basyirah) berupa kebahagiaan surgawi kepada mereka, sebagaimana disebutkan dalam kitab suci-Nya: Mereka akan memperoleh balasan (ghurfah—sebuah tempat kedudukan istimewa di sisi Allah SWT di dalam surga-Nya) atas kesabaran mereka, dan di sana (di surga) mereka akan disambut dengan penghormatan. Mereka akan kekal di dalamnya. Surga adalah sebaik-baik tempat untuk berdiam dan tempat tinggal yang sempurna. (QS. Al-Furqan: 75-76).

Ketika kebahagiaan dalam melakukan perbuatan baik (beramal) dapat dirasakan, kunci Surga pun tersingkap di dalam jiwa seorang hamba yang saleh. Allah membanggakan hamba tersebut di hadapan para malaikat, baik di langit maupun di bumi.

Ketiga: Hidupkan hati (awaken the heart) dalam beribadah

Dalam buku yang cukup monumental “Kalam Min Al-Qalbi”, yang ditulis oleh AMRU KHALID (2009), seorang pendakwah dan pengacara di salah satu acara televisyen paling popular di Timur Tengah. Dia dilarang keras berceramah di dalam negeri Mesir, akhirnya memilih tinggal di Birmingham, Inggeris sambil meneruskan da’wahnya, ia menanyakan dalam bukunya;”Tahukah Anda siapa orang yang paling tersiksa di dunua? Dan beliau langsung menjawab, Orang yang paling tersiksa adalah orang yang tidak mendengarkan suara hatinya.

Suara hati kita sering mati dalam melakukan setiap aktivitas dan bahkan dalam beribadah kepada Allah swt. Hati dalam bahasa Agama disebut dengan qalbu adalah dimana ruh ilahi bersemayam. Qalbu adalah wahana cinta Ilahi yang suci. Tugas kita adalah untuk mempertahankan kesucian diri dan terus menerus melakukan pelatihan (Riyadhah) agar qalbu itu selalu hidup dan bersinar dengan cahaya suci melalui ibadah.

Ibadah apapun, baik yang diwajibkan seperti shalat lima waktu dan sebagainya adalah tempat latihan yang sangat efektif untuk menghidupkan hati/qalbu. Bila qalbu kita sakit maka tidak akan dapat mendengarkan suaranya yang selalu menunjuki kebenaran. Mereka yang selalu menghidupkan qalbunya selalu melihat dirinya dengan penuh harapan. Ia memiliki harga diri (self resfect) dan karenanya setiap penderitaan ia jadikan sebuah tantangan.

Penderitaan bukanlah kiamat tetapi jalan emas untuk meraih cita-cita dirinya. Disini teruji kualitas kesabaran yang dimilikinya. Kesabaran di jadikan kunci untuk terus berjuang menyiasati setiap tantangan. Sebagaimana Allah swt, menyeru; “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”(Qs.2;155). Ayat ini mengandung tiga hal penting menghidupkan hati menuju pesona ketenagan bathin.

Pertama, seruan ini ditujukan bagi mereka yang memiliki keyakinan kuat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah (SWT) dan akan kembali kepada-Nya. Keyakinan ini memberikan kekuatan luar biasa untuk terus bertahan—untuk terus "survive"—yang didorong oleh harapan mulia untuk menjadi hamba yang dicintai oleh Sang Pencipta.

Kedua, perintah untuk bersabar mendahului perintah yang lain untuk mendirikan shalat. Hal ini mengisyaratkan bahwa bagi seseorang yang menggapai keagungan, keputusasaan tidaklah memiliki tempat; dalam hidup mereka, tidak ada kata "terlambat". Dalam keadaan sabar, seseorang memperoleh kesempatan untuk berpikir secara komprehensif, menyusun strategi dan mengevaluasi tindakan, merenungkan situasi saat ini, serta membayangkan apa yang dapat dicapai di masa depan (Al-Qur'an 59:18).

Perintah untuk shalat bukanlah sekadar serangkaian ritual; melainkan mencerminkan dinamika kehidupan yang hidup—yang diwujudkan melalui gerakan berdiri, rukuk, dan sujud. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Allah hanya akan memberikan dukungan-Nya kepada mereka yang sabar dan teguh dalam shalat dan doa-doa mereka.

Dengan demikian, tirai pesona keindahan batin terpancar melalui rona kehidupan, karena kehidupan mereka tidak lagi diukur dengan semata material tetapi juga diukur dengan keberkahan yang memancar. Walaupun mereka hidup di era apa dan manapun, sesulit apapun hidup mereka tetap cemerlang indah mempesona karena cahaya batin mereka terpancar bagaikan cahaya matahari yang indah menerangi bumi. Bagi mereka cita-cita yang abadi adalah merindu cinta ilahi, shalat dan zikir desah nafasnya, Al-Quran dan Hadits adalah peta dan kompas perjalanan hidupnya. Hati / qalbu mereka hidup bercahaya yang menerangi perjalanan hidup mereka di bumi yang fana ini. Mereka telah membuka tirai pesona ketenangan batin, karena mereka zuhud di dunia dan hidup tidak lagi bersama siapa-siapa melainkan mereka hidup dalam genggaman-Nya Yang Maha hidup.

 

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

LINK TERKAIT